Sejarah Candi Sawentar Blitar saksi peradaban kuno kini jadi warisan budaya, disebut Negarakertagama

Sejarah Candi Sawentar Blitar saksi peradaban kuno kini jadi warisan budaya, disebut Negarakertagama
Ringkasan Berita:
  • Candi Sawentar di Blitar merupakan kompleks dua candi peninggalan Hindu-Buddha yang diduga berkaitan dengan masa Singasari hingga Majapahit
  • Situs ini disebut dalam Kitab Negarakertagama dan dikaitkan dengan kunjungan Raja Hayam Wuruk pada 1361, diduga sebagai tempat ziarah atau peristirahatan kerajaan.
  • Candi memiliki relief unik seperti naga bersayap, Garudeya, dan Dewa Surya, serta ditemukan kembali pada 1915 setelah tertimbun material Gunung Kelud.
 

enolenam - Candi Sawentar menjadi salah satu situs bersejarah yang menyimpan jejak peradaban Hindu-Buddha di Jawa Timur.

Candi Sawentar merujuk pada dua bangunan candi yang berada di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, dengan jarak sekitar 100 meter antara satu sama lain.

Keberadaan dua candi ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan kompleks percandian.

Nama Sawentar sendiri berasal dari istilah “Lwa Wentar” yang tercatat dalam Kitab Negarakertagama sebagai sebuah tempat suci di wilayah Blitar.

Masyarakat setempat juga mengenal candi ini dengan sebutan Candi Cungkup atau Candi Centong. Hal ini menunjukkan bahwa situs tersebut telah lama dikenal dalam tradisi lokal.

Dengan latar belakang tersebut, Candi Sawentar tidak hanya menjadi situs arkeologi, tetapi juga bagian dari memori budaya masyarakat setempat yang terus diwariskan hingga kini.

Jejak Sejarah dan Kunjungan Raja Hayam Wuruk

Keberadaan Candi Sawentar semakin menarik karena berkaitan dengan sejarah Kerajaan Majapahit.

Dilansir dari Kompas.com, dalam Kitab Negarakertagama disebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk pernah mengunjungi Lwang Wentar pada tahun 1361.

Sebagaimana dikutip dari budayajatim.com, banyak ahli meyakini bahwa Lwang Wentar yang dimaksud dalam kitab tersebut merujuk pada Candi Sawentar I.

Kunjungan ini dilakukan dalam rangka perjalanan keliling wilayah kerajaan. Dikutip dari sumber yang sama, dalam catatan tersebut dijelaskan bahwa kunjungan raja bertujuan untuk berziarah sekaligus beristirahat.

Hal ini memunculkan dugaan bahwa candi ini memiliki fungsi sebagai tempat peristirahatan kerajaan.

Para ahli masih berbeda pendapat mengenai masa pembangunan candi, apakah berasal dari era Kerajaan Singasari atau awal Majapahit.

Perbedaan pendapat ini justru memperkaya nilai historis Candi Sawentar sebagai situs yang berada di masa peralihan penting dalam sejarah Jawa Timur.

Penemuan dan Proses Pemugaran Candi

Sejarah penemuan Candi Sawentar juga tak kalah menarik untuk ditelusuri. Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1915 oleh Oudheidkundige Dienst atau Dinas Purbakala pada masa Hindia Belanda.

Sebagaimana dikutip dari budayajatim.com, sebelum ditemukan, sebagian besar bangunan candi tertimbun material vulkanik dari Gunung Kelud.

Hal ini menyebabkan posisi candi berada lebih rendah dari permukaan tanah saat ini.

Dikutip dari sumber yang sama, proses ekskavasi kemudian dilakukan secara bertahap hingga berhasil menampakkan bagian kaki bangunan serta sejumlah struktur penting lainnya.

Pemugaran awal dilakukan pada tahun 1921, meskipun bagian atap tidak sepenuhnya direkonstruksi karena keterbatasan material asli.

Upaya pelestarian terus berlanjut hingga sekarang oleh instansi terkait. Dengan berbagai proses tersebut, Candi Sawentar berhasil dipertahankan sebagai situs sejarah yang dapat dipelajari oleh generasi masa kini.

Arsitektur dan Keunikan Relief Candi

Candi Sawentar I memiliki arsitektur khas candi Jawa Timur. Dilansir dari Kompas.com, bangunan ini tersusun atas tiga bagian utama, yaitu kaki, tubuh, dan atap.

Sebagaimana dikutip dari blitarkab.go.id, candi ini terbuat dari batu andesit dengan ukuran panjang sekitar 9,53 meter, lebar 6,86 meter, dan tinggi mencapai 10,65 meter.

Pada bagian kaki candi terdapat relief naga bersayap yang melambangkan alam bawah, sementara di bagian tubuh terdapat kepala kala yang berfungsi sebagai penolak bala.

Salah satu keunikan candi ini adalah adanya yoni dengan motif Garudeya, yang berkaitan dengan Dewa Wisnu dalam kepercayaan Hindu.

Selain itu, relief Dewa Surya dengan tokoh menunggang kuda juga menjadi daya tarik tersendiri, memperlihatkan kekayaan simbolisme yang dimiliki candi ini.

Fungsi Candi dan Nilai Religius yang Terkandung

Candi Sawentar diduga memiliki fungsi keagamaan yang kuat. Sebagaimana dikutip dari Kompas.com, relief-relief yang terdapat pada candi menunjukkan hubungan erat dengan pemujaan terhadap dewa-dewa Hindu.

Dilansir dari blitarkab.go.id, keberadaan ornamen burung Garuda yang merupakan kendaraan Dewa Wisnu memperkuat dugaan bahwa candi ini digunakan sebagai tempat pemujaan.

Namun, dikutip dari budayajatim.com, hingga kini belum ada kepastian apakah candi ini juga berfungsi sebagai tempat pendarmaan tokoh tertentu atau murni sebagai tempat ibadah.

Selain fungsi religius, adanya catatan kunjungan Raja Hayam Wuruk juga menunjukkan bahwa candi ini memiliki peran penting dalam aktivitas kerajaan pada masa itu.

Dengan berbagai nilai sejarah, arsitektur, dan spiritual yang dimiliki, Candi Sawentar menjadi salah satu bukti nyata kejayaan peradaban masa lalu di Blitar yang patut terus dilestarikan.

ORDER VIA CHAT

Produk : Sejarah Candi Sawentar Blitar saksi peradaban kuno kini jadi warisan budaya, disebut Negarakertagama

Harga :

https://www.enolenam.my.id/2026/04/sejarah-candi-sawentar-blitar-saksi.html

ORDER VIA MARKETPLACE

Diskusi