Mengenal kesenian dongkrek Madiun, ritual tolak bala yang lahir dari wabah pageblug
Ringkasan Berita:
- Kesenian Dongkrek berasal dari Mejayan, Madiun sejak abad ke-19, memadukan tari, musik, dan unsur magis khas budaya Jawa.
- Lahir dari wabah pageblug 1866–1867, digunakan sebagai ritual tolak bala untuk mengusir roh jahat.
- Memiliki alat musik dan simbol penuh makna filosofis serta spiritual bagi masyarakat.
- Kini berkembang jadi pertunjukan modern dan identitas budaya Madiun yang terus dilestarikan.
enolenamKesenian Dongkrek merupakan salah satu warisan budaya khas Kabupaten Madiun, Jawa Timur, yang hingga kini masih dilestarikan masyarakat.
Kesenian ini berasal dari Desa Mejayan, Kecamatan Mejayan, dan telah ada sejak sekitar abad ke-19.
Dongkrek dikenal sebagai perpaduan seni tari dan musik tradisional yang sarat nilai magis serta filosofi kehidupan masyarakat Jawa.
Dalam setiap pertunjukannya, Dongkrek menampilkan tarian dengan iringan musik khas serta penggunaan topeng yang menggambarkan berbagai karakter, mulai dari buto (raksasa), perempuan, hingga sosok orang tua bijak.
Nama Dongkrek sendiri diambil dari bunyi alat musik pengiringnya, yakni “dung” dari kendang atau bedug, serta “krek” dari alat musik korek berbahan kayu.
Kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki makna simbolis dalam kehidupan masyarakat.
Sejarah Dongkrek, Lahir dari Wabah Pageblug
Kesenian Dongkrek bermula dari peristiwa wabah penyakit atau pageblug yang melanda wilayah Mejayan sekitar tahun 1866–1867.
Dikutip dari mejayan-desaku.web.id, wabah tersebut menyebabkan banyak warga meninggal dalam waktu singkat, bahkan seseorang bisa sakit pagi dan meninggal pada sore harinya.
Melihat kondisi itu, Raden Ngabei Lho Prawirodipuro III atau R. Sosro Widjoyo sebagai pemimpin wilayah berupaya mencari solusi untuk mengatasi bencana tersebut.
Ia kemudian melakukan laku spiritual dan meditasi untuk memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa.
Dalam prosesnya, ia mendapatkan wangsit berupa kekuatan simbolik untuk mengusir makhluk halus yang dipercaya menjadi penyebab pageblug.
Kemudian, R. Sosro Widjoyo bersama warga melakukan arak-arakan keliling desa sembari memainkan alat musik dan mengenakan topeng sebagai simbol perlawanan terhadap roh jahat.
Sejak saat itulah kesenian Dongkrek lahir dan dipercaya mampu membantu meredakan wabah penyakit di masyarakat.
Prosesi Ritual Sarat Unsur Magis
Dalam tradisi awalnya, Dongkrek digunakan sebagai bagian dari ritual tolak bala untuk mengusir gangguan makhluk halus.
Dilansir dari cakdurasim.com, prosesi ini biasanya dilakukan dengan cara berkeliling desa pada tengah malam sambil memainkan alat musik secara berulang.
Pola musik yang monoton dengan tiga nada dimainkan terus-menerus, sehingga menciptakan suasana mistis dan magis.
Arak-arakan dilakukan dengan membawa obor, membakar dupa, serta menebarkan sesaji di berbagai titik desa, seperti perempatan jalan.
Selain itu, para pelaku ritual biasanya menjalani laku spiritual seperti puasa dan tirakat sebelum pertunjukan dilakukan.
Ritual ini juga melibatkan simbol-simbol tertentu, seperti topeng gandarwo, yang melambangkan makhluk halus, serta gerakan tarian yang mencerminkan proses pengusiran energi negatif.
Tradisi tersebut menggambarkan hubungan erat antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam kepercayaan masyarakat Jawa.
Alat Musik dan Makna Filosofis
Kesenian Dongkrek menggunakan berbagai alat musik tradisional yang memiliki makna tersendiri.
Beberapa di antaranya adalah kentongan, kenong, bedug, gong, korek, dan beri.
Kentongan misalnya, digunakan sebagai tanda untuk mengumpulkan warga melalui bunyi “titir” yang khas.
Kenong dimaknai sebagai simbol ketenangan dan meditasi, sedangkan bedug melambangkan ketegasan serta penanda waktu yang sakral.
Sementara itu, alat musik korek dipercaya memiliki fungsi simbolis untuk mengusir roh halus, karena berasal dari sapu lidi yang identik dengan penolak bala.
Gong pamungkas menjadi penutup pertunjukan yang melambangkan keberhasilan atau kemenangan.
Perpaduan bunyi alat musik ini menghasilkan suasana emosional yang kuat dan dipercaya memiliki daya magis bagi masyarakat.
Dari Ritual Sakral Menjadi Pertunjukan Modern
Seiring perkembangan zaman, kesenian Dongkrek mengalami perubahan fungsi dari yang semula sakral menjadi lebih fleksibel sebagai pertunjukan.
Dikutip dari Kompas.id, kesenian ini sempat mengalami pasang surut, bahkan pernah terhenti dalam kurun waktu tertentu.
Namun, sejak tahun 2000-an, Dongkrek mulai kembali bangkit dan dikembangkan oleh para seniman lokal.
Kini, Dongkrek tidak hanya ditampilkan dalam ritual adat, tetapi juga dalam festival budaya, acara penyambutan tamu, hingga pertunjukan hiburan masyarakat.
Bahkan, pemerintah daerah turut mendorong pelestarian Dongkrek dengan menjadikannya sebagai muatan lokal di sekolah.
Selain itu, muncul pula inovasi dengan memadukan Dongkrek dengan musik modern seperti dangdut dan campursari agar lebih mudah diterima generasi muda.
Identitas Budaya dan Nilai yang Terus Dilestarikan
Dongkrek kini tidak hanya menjadi kesenian tradisional, tetapi juga simbol identitas budaya Kabupaten Madiun.
Kesenian ini mengandung nilai sejarah, spiritual, serta filosofi kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Nilai-nilai tersebut antara lain tanggung jawab, kebersamaan, keteguhan hati, serta kepercayaan kepada kekuatan Tuhan.
Selain itu, Dongkrek juga membuka peluang ekonomi kreatif melalui pembuatan topeng, kostum, dan alat musik tradisional.
Pelestarian Dongkrek menjadi tanggung jawab bersama, baik masyarakat maupun pemerintah, agar warisan budaya ini tidak hilang ditelan zaman.
Dengan segala nilai dan sejarahnya, Dongkrek diharapkan terus hidup sebagai kebanggaan masyarakat Madiun sekaligus kekayaan budaya Indonesia.
Diskusi