4 alasan Iran telanjur kecewa, kapal Indonesia sampai tak bisa lewati Selat Hormuz

4 alasan Iran telanjur kecewa, kapal Indonesia sampai tak bisa lewati Selat Hormuz
Ringkasan Berita:
  1. Indonesia masih bernegosiasi agar dua kapal Pertamina bisa melintas Selat Hormuz.
  2. Iran disebut kecewa akibat beberapa kebijakan dan sikap diplomatik Indonesia sebelumnya.
  3. Faktor geopolitik dan kerja sama Indonesia dengan AS diduga mempengaruhi keputusan Iran.
 

enolenamAlasan Iran telanjur kecewa hingga kapal Indonesia belum diizinkan melewati selat Hormuz.

Kini Indonesia sedang melakukan negosiasi agar kapal tanker bisa diizinkan melewati Selat Hormuz yang ditutup oleh Iran.

Kapal itu adalah kapal tanker milik PT Pertamina, yakni VLC Pertamina Pride dan Gamsunoro.

Nasib Indonesia ternyata berbeda dengan negara Asia yang lain seperti kapal dari Malaysia, Tiongkok, Pakistan hingga Thailand.

Mereka sudah diizinkan lebih dulu untuk melewati Selat Hormuz.

Dian Wirengjurit, mantan Duta Besar Indonesia untuk Iran, menyebutkan bahwa sebenarnya sudah ada dua kapal tanker Indonesia yang dibebaskan.

“Pertama, karena memang tidak terlalu besar. Kedua, karena kedua kapal itu, Paragon dan Rinjani, memang berbendera Indonesia,” ujar Dian dalam program Kompas Petang di Kompas TV, Sabtu (28/3/2026).

“Nah, dua tanker lain, yang supertanker itu, belum bisa dilepaskan oleh pihak Iran, setahu saya karena berbagai hal.”

Dian kemudian menyebut Iran merasa sudah berkali-kali dikecewakan oleh Indonesia.

Menurut dia, kekecewaan itu tidak ada kaitannya dengan perang saat ini antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel.

Kekecewaan itu muncul sebelum perang.

“Kenapa? Karena Iran itu, dalam konteks diplomasi, ada asas diplomasi yang namanya resiprokalitas (perbuatan imbal balik),” ucap Dian.

Mantan Dubes itu menyebut jika suatu negara melakukan kebaikan, negara itu akan dibalas dengan kebaikan, begitu juga sebaliknya.

Dia lalu mengungkapkan sejumlah hal yang membuat Iran kecewa kepada Indonesia.

Iran pernah ditolak masuk perairan Indonesia

“Pertama, sejak 2-3 tahun yang lalu, ketika latihan perang negara-negara Pasifik, Iran diundang secara resmi. Dua kapalnya sudah berangkat, kapal perangnya ikut bergabung untuk latihan bersama yang dikoordinir oleh Indonesia.”

Namun, kata Dian, kapal Iran kemudian justru ditolak masuk ke perairan Indonesia.

Keikutsertaan Iran akhirnya dibatalkan. 

Dia mengatakan pembatalan itu disebabkan oleh paksaan dari AS.

Kapal tanker Iran disandera Indonesia

Kekecewaan kedua berkaitan dengan kapal tanker Iran yang bernama MT Arman 114 yang sudah bertahun-tahun disandera oleh Indonesia setelah ditangkap.

“Mereka memperdagangkan minyak di tengah lautan yang mereka klaim sebagai lautan internasional, tetapi kita menganggap di perairan Indonesia. Hingga saat ini statusnya belum jelas,” ucap dia.

Terlambat ucapkan belasungkawa untuk Ali Khamenei

Adapun kekecewaan yang ketiga berkenaan dengan terlambatnya Indonesia mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei beberapa waktu lalu.

Dian mengklaim Presiden Prabowo Subianto justru memberikan pernyataan yang tidak bersimpati kepada Iran yang sedang diserang AS-Israel.

Mengenai dua kapal tanker besar berbendera Indonesia yang belum bisa melewati Selat Hormuz, Dian menduga Iran meminta imbalan dari Indonesia, minimal melepaskan atau menjelaskan status kapal MT Arman 114 yang ditahan.

Iran disebut kecewa karena Indonesia gabung dengan BoP

Di sisi lain, pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menduga bahwa sulitnya kapal Indonesia untuk melintasi Selat Hormuz disebabkan oleh Iran yang merasa "sakit hati" karena Indonesia masuk menjadi anggota Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump.

Tak hanya itu, dia juga menilai kesepakatan Indonesia dan AS dalam perjanjian tarif resiprokal turut menjadi alasan Iran seakan mempersulit izin agar kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro untuk melintasi Selat Hormuz.

Bhima meminta agar pemerintah mencontoh langkah Malaysia yang enggan masuk menjadi anggota BoP serta membatalkan kerja sama tarif resiprokal dengan AS.

"(Dua kapal sulit melintasi Selat Hormuz) buntut dari masuknya Indonesia ke BoP dan perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan AS."

"Malaysia sudah membatalkan kerja sama ART dan mengecam agresi AS ke Iran. Indonesia sepertinya salah memilih posisi," katanya ketika dihubungi, Jumat (27/3/2026).

Bhima pun mendorong agar Indonesia keluar dari BoP dan membatalkan perjanjian tarif resiprokal dengan AS agar Iran "luluh" sehingga kapal bisa melintas di Selat Hormuz.

"Sekarang yang terpenting bukan melayani kemauan Trump, tapi menyelamatkan rakyat Indonesia," tuturnya.

Saran Jusuf Kalla

Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla memberikan saran terkait dua kapal tanker Indonesia yang masih tertahan di Selat Hormuz.

Dua kapal tanker yang tertahan yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro.

Jusuf Kalla yang akrab dikenal JK, menilai masalah tersebut tentu menjadi kepentingan pemerintah.

“Kami di sini tidak berbicara tentang situasi itu. Tetap itu kepentingan pemerintah,” kata JK di kediamannya Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (15/3/2026), dikutip dari Kompas.com.

Dia baru saja selesai berdiskusi bersama para cendekiawan, membahas pemerintahan dan otonomi daerah, bukan membahas geopolitik atau situasi Selat Hormuz secara khusus.

Kendati demikian, JK melanjutkan komentarnya soal dua kapal Indonesia yang tertahan di sekitar Selat Hormuz.

Dia mengaku bisa berkonsultasi dengan Pemerintah Iran, namun Pemerintah Indonesia harus lebih aktif berbicara dan menunjukkan keprihatinan terhadap kondisi di Iran.

“Walaupun tentunya saya bisa berkonsultasi, bicara dengan pihak Iran. Tapi ada batasnya juga. Harus pemerintah lebih aktif (melobi ke Iran),” ujarnya menyarankan.

“Harus juga pemerintah memberikan keprihatinan dan juga dukungan, kemanusiaan di Iran. Dan saya kira pemerintah Iran akan menerima apabila kita berada di situ,” imbuhnya.

Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan Lewat Selat Hormuz

Sebelumnya diberitakan, PT Pertamina International Shipping (PIS) mengungkapkan dua kapal milik perusahaan masih tertahan di Teluk Arab.

Kedua kapal sedang menunggu situasi aman di Timur Tengah untuk bisa keluar melalui Selat Hormuz.

Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita mengatakan, terdapat empat unit kapal milik perusahaan yang beroperasi di kawasan Timur Tengah.

Dua kapal tercatat telah beranjak dari area konflik, yaitu kapal PIS Rinjani dan kapal PIS Paragon.

Sementara dua unit kapal yang masih beroperasi di kawasan Timur Tengah yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro yang berada di Teluk Arab.

“Kapal-kapal ini sedang menunggu situasi aman untuk dapat keluar melalui Selat Hormuz. Keduanya dalam kondisi aman," ujar Vega dalam keterangannya, Selasa (10/3/2026).

Adapun Kapal Gamsunoro melayani kargo milik konsumen pihak ketiga (third party).

Sementara itu, VLCC Pertamina Pride sedang dalam misi mengangkut pasokan minyak mentah (light crude oil) untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Kendati dua kapal masih tertahan, Vega memastikan, rantai pasok dan distribusi energi tetap solid, baik di perairan internasional maupun perairan Indonesia.

Kata Kemlu RI

Kementerian Luar Negeri atau Kemlu RI menyampaikan penjelasannya pada 6 Maret lalu.

Kemlu lewat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Teheran sedang berdiplomasi dengan Iran terkait dua kapal milik Pertamina itu.

“Nah, oleh karena itu, memang saat ini sedang dilakukan upaya diplomasi, upaya koordinasi dengan pihak-pihak terkait di Iran,” kata Direktur Jenderal Asia, Pasifik, dan Afrika Kemlu RI Santo Darmosumarto, dalam jumpa pers di Kemlu, Jumat (6/3/2026).

Meski demikian, Santo menekankan, pihak yang sedang didiplomasikan tidak hanya satu atau dua, tetapi melibatkan banyak pihak.

“Untuk memastikan bahwa kepentingan Indonesia terkait dengan Pertamina itu dapat terus diberikan perlindungan, dari sisi dapat melintas Selat Hormuz itu dengan aman,” ujar dia.

“Tapi memang kondisinya secara umum memang masih belum kondusif di sana. Tapi terus kita upayakan untuk melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pihak pemerintah Iran,” tambah dia.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews enolenam

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

ORDER VIA CHAT

Produk : 4 alasan Iran telanjur kecewa, kapal Indonesia sampai tak bisa lewati Selat Hormuz

Harga :

https://www.enolenam.my.id/2026/04/4-alasan-iran-telanjur-kecewa-kapal.html

ORDER VIA MARKETPLACE

Diskusi