Warga bayar Rp 450 ribu sebulan untuk dapat air bersih, Pemkab ngaku sudah berupaya setiap hari

Ringkasan Berita:
- Sebagai wilayah rendah, Tapanuli Selatan masih mengalami koondisi tak baik pasca banjir dan longsor
- Warganya harus membayar Rp 450 ribu untuk dapat air bersih
- Pihak pemerintah belum merespons secara resmi
enolenamBencana banjir dan longsor yang menimbulkan korban di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, ternyata juga masih menimbulkan masalah.
Penderitaan baru diraskaan warga korban bencana banjir dan longsor bandang.
Pihak pemerintah masih belum merespons dan mengatasi dengan nyata persoalan yang terjadi.
Warga kini harus merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan air bersih.
Air bersih
Dua bulan pasca-bencana banjir dan longsor, warga Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara masih kesulitan mendapatkan air bersih.
Berdasarkan informasi yang Tribun Medan dapatkan, banyak warga yang terpaksa harus membeli air seharga Rp 1.000 per jeriken.
\Meski terbilang cukup murah, banyak warga yang mengeluh.
Sebab, air menjadi kebutuhan utama masyarakat.
Dibanderol harga
Misalnya saja Yani, warga Kelurahan Sibuluan Indah,Kecamatan Pandan.
Ia terpaksa harus membeli air yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya.
Air bersih itu, kata Yani, bukan hanya dipergunakan untuk Mandi Cuci Kakus (MCK), tetapi juga diperuntukkan untuk pembersihan rumah usai diperbaiki usai banjir dan longsor.
"Sulit kali, tiap hari mengantre pagi dan sore hari. Sudah sejak bencana belum ada air hidup. Lumayan juga tempat beli air itu di belakang Sekolah Matauli Pandan. Dan kita beli harganya Rp 1.000 di kali 15 jeriken selama 30 hari, berat juga kan," keluhnya kepada Tribun Medan, Minggu (25/1/2026), dikutip enolenamdari Tribun Medan, Senin (26/1/2026).
Itu artinya, setidaknya Rp 450 ribu per bulan ia habiskan untuk kebutuhan air bersih. Apalagi, kata Yani, ia memiliki tiga orang anak yang tiap pagi wajib mandi untuk berangkat sekolah.
"Rumah kami juga memang sudah selesai perbaikan, cuma kan pembersihan dari perbaikan itu perlu air banyak. Ada anak kami tiga orang masih sekolah. Semua di Tapteng ini khususnya di Kecamatan Pandan ini nggak ada hidup air. Gimana kalau air enggak hidup terus," ucapnya.
Ada yang pilih bayar seikhlasnya
Selain Yani, Ansyah Sitompul juga mengeluhkan hal yang sama.
Hanya saja, ia lebih memilih mengambil air dengan sistem bayar seikhlasnya.
Menurutnya, terdapat masjid yang menyediakan pengambilan air bersih dengan sistem pembayaran infaq atau seikhlasnya untuk pembangunan masjid.
"Gimana ya, tiap hari kita mengantre mengambil air, angkat air. Capek juga. Paling lama itu pernah saya mengantre air setengah jam. Dan pernah juga mengambil air Subuh-subuh, biar nggak mengantre," ucapnya.
Untuk itu ia berharap agar air di rumahnya bisa hidup seperti sebelum bencana. Menurutnya, ia lebih ambil air di Masjid, sekalian sedekah untuk kemakmuran masjid.
"Kalau saya lebih memilih ambil air di sini. Selain untuk niatnya bersedekah juga untuk kemakmuran masjid. Karena ngambil air di sini bayarnya seikhlasnya atau bahasanya infaq," ucapnya.
Ia berharap, air segera hidup. Sebab, air adalah kebutuhan utama masyarakat.
"Karena sudah dua bulan berlalu ini, berharap lah ini menjadi perhatian khusus untuk pemerintah. Karena kalau tidak ada air, penyakit bisa mulai bermunculan," katanya.
Sorotan terhadap Bupati Tapteng hingga pihak KLHK
Atas keluhan ini, Tribun Medan sudah coba konfirmasi ke Bupati Tapteng, namun tak kunjung mendapat respons.
Sementara itu, berdasarkan instagram resmi Pemkab Tapteng @pemkabtapanulitengah mengatakan, perbaikan air yang sudah selesai 100 persen adalah Kecamatan Barus Sosorgodang, Manduamas, Sorkam, Tapian Nauli, Sitahuis, dan Lumut.
Untuk perbaikan air yang masih dalam proses pekerjaan 79,18 persen dan masih dalam tahap perbaikan aktif yakni kecamatan Pandan, Sarudik, dan Tukka.
Kemudian yang baru selesai 80 persen dan masih dalam perbaikan aktif adalah kecamatan Pinang Sori dan Kolang.
Kecamatan yang perbaikan air belum dilakukan yakni Badiri, Sibabangun, dan Sitahuis (Aek Marende).
"Upaya kita adalah melakukan penanganan kesehatan di seluruh Posko setiap hari. Kemudian menyediakan sanitasi seperti tempat cuci tangan atau pun disinfektan. Untuk meminimalisir penyakit ispa," jelasnya.
Ia mengimbau, agar penyintas banjir, tetap menjaga kebersihannya di lingkungan sekitar tenda pengungsian.
"Minimal meminimalkan penyakit lain timbul dengan menjaga kebersihan sampah yang ada di sekitar kita. Dan mengikuti arahan-arahan dari setiap tim medis yang ada di posko," jelasnya.
Berita viral lainnya
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews enolenam
Diskusi