Jangan asal headstand jika tak mau kena saraf terjepit di leher!

Sedang gila yoga akhir-akhir ini? Kalau iya, Anda pasti pernah melihat seseorang atau guru yoga Anda melakukan pose dengan kedua kaki di udara dan kepala di lantai. Pose satu ini disebut headstand.

Banyak pemula yoga yang gandrung dengan pose headstand karena beragam alasan, misalnya bentuknya yang tidak lazim, indah, dan mengagumkan. Ada juga yang tertantang karena pose yang dalam yoga disebut sirsasana (bahasa Sansekerta) ini memang tidak mudah untuk dicapai. Bahkan jika seseorang berlatih tiap hari pun, seseorang belum tentu bisa melakukannya dengan teknik yang baik dan aman.

Bukan untuk Pemula

Dalam yoga sendiri, headstand bukan pose yang diperbolehkan dilakukan untuk pemula. Praktisi yoga yang rutin berlatih 6 hari seminggu pun baru diajari headstand setelah berlatih rutin selama minimal 6 bulan, setidaknya demikian menurut aturan latihan BKS Iyengar, pendiri Iyengar Yoga dalam bukunya Light on Yoga. Jadi, adalah sebuah salah kaprah jika seseorang yang baru saja mencoba kelas yoga pertama dan kemudian mencoba headstand. Tentu sangat riskan dan bisa mencelakai diri sendiri.

Tren headstand di kalangan pemula yoga akhir-akhir ini bisa dirunut dari maraknya event dan kelas yoga yang diajar oleh 'guru-guru' yoga yang kurang kompeten dan profesional. Mereka yang masih belum mengantongi sertifikat yoga teacher training 200 jam tidak seharusnya mengajar pose-pose level mahir seperti headstand ini hanya demi konten media sosial. Ini karena teknik headstand cukup kompleks dan risikonya tidak bisa dianggap remeh.

Risiko Saraf Terjepit di Leher

Tren headstand ini juga memicu munculnya sejumlah kasus saraf leher yang terjepit. Akibat teknik headstand yang keliru, sejumlah pelaku yoga harus berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan solusi.

Hal ini dikemukakan oleh dr. Edbert dalam akun Instagramnya @dr.edbert yang mengingatkan para pelaku yoga soal risiko saraf leher yang terjepit jika headstand dilakukan secara sembrono, tanpa teknik yang tepat dan dilakukan tanpa adanya pengawasan dari guru yoga yang kompeten dan profesional di bidangnya. Contoh gejala saraf leher yang terjepit ini ialah ada rasa kesemutan atau kebas dari leher hingga ke lengan. Anda bisa menyimak versi lengkap pernyataan dokter tersebut di atas.

Dan memang jika ditilik dari aspek anatomi tubuh, area leher merupakan salah satu area terapuh yang dilintasi jaringan saraf dari otak menuju ke berbagai anggota badan dari lengan hingga kaki. Jadi jika ada yang terganggu di saraf leher, dampaknya bisa terasa sampai ke seluruh anggota badan kita. Itulah kenapa peringatan ini bukan bersifat menakut-nakuti tetapi lebih pada edukasi keselamatan dan kesehatan agar terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan.

Teknik Tepat Headstand

Meski namanya headstand, pose satu ini idealnya tidak menggunakan ubun-ubun kepala sebagai tumpuan utama. Dalam bukunya yang berjudul Science of Yoga, Ann Swanson mengemukakan bahwa kesalahkaprahan soal headstand ialah banyak yang mengira tumpuan utamanya adalah ubun-ubun padahal jika ingin lebih aman, semestinya titik tumpuan utamanya justru di kedua siku lengan dan kepalan tangan yang menjadi segitiga fondasi headstand.

Jadi bayangkan Anda membagi berat badan ke 3 titik tumpuan utama yakni kedua siku dan kepalan tangan dan 1 titik tumpuan sekunder yakni ubun-ubun kepala. Dan perkiraan persentase besaran tumpuannya kira-kira adalah 30 persen berat badan untuk siku kanan, siku kiri, dan kepalan tangan. Lalu bagaimana dengan 10 persen sisanya? Nah itu baru bisa diberikan pada ubun-ubun kepala. Dengan begitu, beban yang dikenakan ke leher lebih ringan. Di saat bersamaan, risiko tertekannya saraf leher jadi lebih berkurang meski tidak sama sekali hilang.

Orang-orang yang Dilarang Headstand

Namun, jika Anda memang ingin sepenuhnya mengamankan area leher, sangat disarankan untuk melakukan gerakan penguatan leher dengan resistance band dan juga menggunakan alat bantu seperti inversion chair untuk headstand. Hal ini belum banyak dilakukan di kelas yoga populer di Indonesia terutama Jakarta dan sekitarnya. 

Jika memang leher sudah lemah, disarankan juga untuk tidak melakukan versi headstand lain yang jauh lebih berisiko seperti tripod headstand yang lebih banyak menggunakan kepala sebagai tumpuan utama. 

Bagi yang sedang menstruasi, migrain, tekanan darah tinggi/ rendah, hamil, ada cedera punggung/ tulang belakang, sakit jantung, diabetes, minus tinggi, glaukoma tidak disarankan melakukan headstand. (*/)

ORDER VIA CHAT

Produk : Jangan asal headstand jika tak mau kena saraf terjepit di leher!

Harga :

https://www.enolenam.my.id/2026/02/jangan-asal-headstand-jika-tak-mau-kena.html

ORDER VIA MARKETPLACE

Diskusi