Banjir di Subang dan Karawang semakin meluas, dua kecamatan terendam rob dan 24.109 warga Bekasi mengungsi
KORAN-PIKIRAN RAKYAT – Banjir yang melanda Kabupaten Subang terus meluas hingga mencakup wilayah di delapan kecamatan. Selain kiriman dari sungai, wilayah pesisir pantai utara (pantura), banjir kali ini juga diperparah dengan rob dari arah laut. “Situasi sekarang, Ciasem terendam lagi dan ditambah Kecamatan Pagaden Desa Kamarung. Untuk rob terjadi di sepanjang pantai utara,” kata Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Subang, Jajang Abdul Muhaimin, Kamis 29 Januari 2026.
Dia mengatakan, ketinggian air bisa berubah-ubah dalam waktu singkat karena gelombang air laut yang naik ke daratan bercampur dengan air luapan dari sungai. Gelombang air laut hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu selama beberapa jam saja.
Fenomena alam tersebut menambah ketinggian banjir yang sudah merendam perkampungan penduduk dan fasilitas umum. Wilayah yang terdampak banjir rob itu salah satunya Kecamatan Legonkulon.
“Untuk ketinggian air tidak bisa diprediksi karena ini sudah bersatu dengan ketinggian banjir. Jadi, kalau rob itu hanya terjadi sekian jam langsung surut tapi kalau banjirnya masih tetap ada,” ujarnya.
Banjir yang terjadi selama beberapa hari terakhir dilaporkan telah merendam hingga 11.865 rumah di enam kecamatan se-Kabupaten Subang. Dari total 33.911 warga yang terdampak, sebanyak 571 warga di antaranya masih mengungsi di tempat ibadah hingga kolong jembatan layang (flyover) Jalan Pantura Subang.
Pemerintah Kabupaten Subang telah membangun dua dapur umum untuk membantu para korban yang masih bertahan di rumah masing-masing maupun di tempat pengungsian. Lokasi dapur umum tersebut berada di Kecamatan Pamanukan dan Legonkulon.
“Posko Pamanukan memproduksi 6.000 bungkus dan Legonkulon 3.000 bungkus. Untuk sementara cukup, kalau masalah cukup-tidaknya itu relatif tapi sementara ini masih bisa terpenuhi,” kata Jajang, menanggapi bantuan makanan yang dinilai masih kurang.
Sementara itu, banjir di Desa Mulyasari, Kecamatan Pamanukan dilaporkan kembali naik hingga ketinggian 1,5 meter. Menurut warga setempat, air yang sempat surut kembali naik seiring dengan peningkatan intensitas hujan sejak Kamis pagi hingga sore hari.
“Banjir kembali ke kondisi awal, sekitar 1,5 meter. Ini akibat sungai meluap karena hujan turun terus-menerus. Air mulai naik lagi sekitar jam 4.00 subuh,” kata Asep, salah seorang warga terdampak banjir di Desa Mulyasari.
Kondisi banjir semakin parah membuat warga berbondong-bondong kembali ke tempat pengungsian. Mereka hanya bisa berharap pemerintah tak hanya memberikan bantuan jangka pendek tapi juga solusi jangka panjang untuk mencegah banjir terulang kembali.
Mengungsi lagi
Di Karawang, baru sehari pulang ke rumah setelah dua pekan berada di pengungsian, ratusan warga Dusun Pangasinan, Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat kembali harus tinggal berdesak-desakan lagi di lokasi pengungsian, Kamis 29 Januari 2026. Penyebabnya, rumah mereka lagi-lagi diterjang banjir air bah yang berasal dari luapan Sungai Cibeet dan Citarum.
Saat ini, tim SAR dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang pun kembali sibuk mengevakuasi warga yang terjebak banjir di rumahnya masing-masing. "Pada hari Selasa banjir di Karangligar sudah surut total. Namun Rabu siang sekira pukul 12.00, air kembali naik menggenangi rumah warga," ujar salah seorang petugas SAR BPBD setempat, Kaming, Kamis 29 Januari 2026.
Puncaknya, kata Kaming, banjir besar di Dusun Pangasinan kembali terjadi Kamis dini hari tadi. Ketinggian air langsung mencapai 2 meter hingga nyaris menenggelamkan sejumlah warga yang posisinya berada di titik terendah dusun tersebut.
Kaming menyebutkan, untuk jumlah warga terdampak pada banjir kali ini masih dalam pendataan pihak BPBD Karawang. Saat ini timnya fokus pada proses evaluasi warga yang terjebak banjir.
"Yang pasti ada ratusan warga yang kembali ke pengungsian. Padahal mereka baru satu hari kembali ke rumahnya masing-masing untuk membersihkan lumpur," tuturnya.
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor Karawang, Inspektur Dua Cep Wildan, banjir di Karangligar kembali menelan korban jiwa. Seorang warga Dusun Kampek berinisial E (80 tahun), ditemukan mengambang di dalam rumahnya, Rabu pagi 28 Januari 2026.
Menurut Cep Wildan, dari keterangan saksi, korban terjatuh dari bale-bale di dalam rumahnya. Karena kondisi korban yang sudah lanjut usia dan tidak mampu bangun kembali, serta adanya genangan air sisa banjir di lokasi tersebut, korban kemudian meninggal dunia di tempat kejadian.
“Korban sebelumnya sempat mengungsi ke rumah keluarganya di wilayah Margamulya, Telukjambe Barat. Namun setelah air mulai surut, korban meminta untuk diantar kembali ke rumahnya. Beberapa waktu kemudian, korban ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia,” kata Cep Wildan.
Banjir besar
Sementara itu, banjir besar kembali melanda sebagian besar wilayah Kabupaten Bekasi, Kamis 29 Januari 2026. Bahkan 24.109 warga terpaksa mengungsi akibat rumahnya terendam.
Banjir tidak lepas dari hujan lebat yang mengguyur hampir seluruh wilayah Bekasi sejak dini hari hingga malam. Kondisi itu diperparah dengan besarnya debit air di sejumlah sungai hingga akhirnya meluap ke pemukiman warga.
“Baru kemarin rumah diisi sekarang air sudah masuk lagi. Buru-buru saya bawa anak dan istri balik ke rumah mertua. Ini soalnya hujannya kagak berhenti-berhenti. Dari semalem makanya sudah was-was saja,” kata Tian (28), warga Karangbahagia.
Sedangkan Abdul (41), warga Tambun Selatan mengaku, rumahnya tidak terendam namun akses lingkungan terisolasi.
“Ini saya berangkat kerja, anak berangkat sekolah enggak bisa. Ini lumayan tinggi, biasanya enggak sampai susah kemana-mana gini,” ucap dia.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bekasi hingga kemarin pukul 17.00, banjir telah merendam 173 titik di 49 desa yang tersebar di 16 kecamatan. Banjir mengakibatkan 51.289 keluarga terdampak. Dari jumlah itu, sebanyak 6.805 keluarga harus mengungsi.
Mereka mengungsi di 24 lokasi di enam kecamatan, baik di sekolah, masjid, kantor pemerintahan hingga tenda pengungsian. Ini menjadi banjir terluas yang terjadi sepanjang awal tahun ini.
“Genangan terjadi hampir merata dengan ketinggian bervariasi. Karena hujan yang memang mengguyur sejak malam sebelumnya menambah ketinggian banjir di beberapa titik yang sebelumnya juga terendam,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dody Supriyadi.
Babelan menjadi kecamatan terparah dengan 45 titik banjir. Setiap titik memiliki tinggi muka air mulai dari 20-100 sentimeter.
Setidaknya, empat lokasi pengungsian pun didirikan karena banjir merendam banyak pengungsian untuk korban banjir.
Lokasi terparah lainnya yakni Tarumajaya dengan 23 titik, Cibitung (19 titik) dan Muaragembong (18 titik).
Selain permukiman warga, banjir juga berdampak signifikan terhadap sektor pertanian. Sekitar 5.301,7 hektare lahan pertanian dilaporkan terendam banjir dan berpotensi menurunkan hasil produksi pangan masyarakat.
"Sampai saat ini kami terus melakukan pemantauan kondisi lapangan dan mengoptimalkan penanganan darurat, termasuk evakuasi warga serta pendistribusian bantuan logistik," ujarnya.
Pihaknya pun terus berkoordinasi lintas sektor untuk memastikan keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi selama masa tanggap darurat. (Dodo Rihanto, Hilmi Abdul Halim, Tommi Andryandy)***
Diskusi