5 populer regional: Pembunuhan karyawati SPPG - Penjual es gabus Suderajat raup Rp300 ribu sehari
Ringkasan Berita:
- Populer regional merupakan berita paling banyak dibaca selama 24 jam
- Dimulai seorang karyawati SPPG di Palembang bernama Wulandari (50) tewas dibunuh oleh rekan kerjanya, Andi (38), dengan motif pelaku kesal karena merasa sering diganggu korban.
- Kemudian ada penjual es gabus Suderajat (49) mengaku trauma setelah viral dituduh menjual es berbahan spons, padahal sebelumnya ia bisa memperoleh penghasilan hingga Rp300 ribu per hari.
enolenam- Berita populer dimulai dari kasus pembunuhan karyawati Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Korbannya adalah Wulandari (50), yang sehari-hari bertugas mencuci ompreng.
Sementara pelakunya seorang office boy (OB) SPPG bernama Andi (38).
Motif kasus ini adalah Andi merasa kesal karena sering diganggu korban, padahal tersangka sudah punya istri dan anak.
Kemudian ada cerita di balik viralnya penjual es gabus bernama Suderajat (49).
Sebelum ramai dituduh menjual es gabus berbahan spons, ternyata ia bisa mengantongi uang Rp300 per hari.
Kini, Suderajat mengaku trauma usai dapat intimidasi dari aparat.
Berikut rangkuman berita populer regional selengkapnya selama 24 jam terakhir:
1. Motif Pembunuhan Karyawati SPPG di Palembang, Jasad Ditemukan di Semak-Semak
Kasus kekerasan antarteman kerja terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia.
Pegawai wanita rentan menjadi korban kekerasan lantaran relasi kuasa serta budaya patriarki.
Pada tahun Oktober 2025 lalu, pegawai wanita di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat, berinisial RDA (28) menjadi korban kekerasan dan pelecehan.
Pelaku adalah Kepala SPPG atau atasan korban yang berinisial KP.
Kasus kekerasan antarpegawai SPPG juga terjadi di Palembang, Sumatra Selatan, pada Kamis (22/1/2026).
Seorang office boy (OB) SPPG bernama Andi (38) membunuh rekan kerjanya, Wulandari (50), yang bertugas mencuci ompreng.
Jasad korban ditemukan warga di Desa Gaung Asam, Kecamatan Belida, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, pada Rabu (28/1/2026).
Andi menyerahkan diri ke kantor polisi dan mengakui perbuatannya.
Kapolsek Ilir Barat I, Kompol Fauzi Saleh, mengatakan pelaku risih dengan korban yang mengajaknya berhubungan asmara.
"Kalau dari pengakuan tersangka dia kesal karena sering diganggu korban, padahal tersangka sudah punya istri dan anak," ungkapnya, dikutip dari TribunSumsel.com.
Korban ingin ikut tersangka ke Gaung Asam, Muara Enim, menggunakan sepeda motornya.
Di tengah perjalanan, tersangka kesal lantaran korban berupaya memeluk dari belakang.
Baca selengkapnya.
2. Lansia Bunuh Lansia di Palembang, Christina Dirampok, Leher Dijerat, Jasadnya Dibakar di Kebun Sawit
Kasus Christina, lansia 80 tahun di Palembang, Sumsel yang jadi korban perampokan dan penculikan akhirnya terpecahkan.
Jasad Christina yang adalah pensiunan guru itu ditemukan di kebun sawit wilayah Banyuasin.
Sementara itu tiga pelaku sudah ditangkap lebih dulu sebelum jasad Christina ditemukan.
Saat ini, ketiga pelaku yakni YS, JI, dan Sw sedang diperiksa intensif oleh penyidik dari Polda Sumsel dan Polda Jatim.
Terungkap detik-detik lansia 80 tahun, Christina meregang nyawa.
YG (61) pelaku utama pembunuhan dan penculikan terhadap Christina (80) lansia pemilik kos dan pensiunan guru di Palembang membuat pengakuan.
Dia menghabisi nyawa korban dengan cara menjeratkan tali ke leher.
Selain menjerat leher, tersangka YG juga membakar jasad korban menggunakan bensin dan korek api di bawah pohon sawit, Jalan Tanjung Api-api, Kecamatan Tanjung Lago, Banyuasin guna menghilangkan jejak.
Dirreskrimum Polda Sumsel, Kombes Pol Johannes Bangun mengatakan, kronologis pencurian disertai pembunuhan itu berawal ketika tersangka meminta diantarkan ke tempat temannya.
"Pelaku ada chat WA ke korban sekitar pukul 04:22 WIB minta diantar ke tempat temannya di kawasan Sukabangun menggunakan mobil korban. Kemudian ketika di KM 7, pelaku meminta korban menyetop kendaraannya," ujar Johannes saat rilis di Polda Sumsel, Rabu (28/1/2026).
Baca selengkapnya.
3. Remaja 16 Tahun di Karawang Bunuh Ayah setelah Mimpi Buruk, Diduga Sakit Hati Ibu Alami KDRT
Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat melahirkan siklus kekerasan baru dalam keluarga.
Di Karawang, Jawa Barat, seorang anak berusia 16 tahun membunuh ayah yang sering melakukan KDRT ke ibu, Rabu (28/1/2026) dini hari.
Usia pelaku yang masih di bawah umur membuat penyidik memastikan aspek hukum berjalan tanpa mengabaikan hak-hak anak.
Kasus anak membunuh ayah pernah terjadi Jember, Jawa Timur pada Senin (27/1/2025) lalu.
Pelaku berinisial A (19) membunuh ayah memakai senjata tajam dan sempat berniat mengakhiri hidup.
Warga dapat mengamankan A dan membawanya ke kantor polisi.
Dalam kasus pembunuhan di Karawang, motif pelaku yakni sakit hati ibu diperlakukan secara kasar.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, pelaku menikam korban sekitar pukul 03.30 WIB atau setelah bangun tidur.
Diduga pelaku mengalami mimpi buruk tentang kekerasan rumah tangga sehingga ketakutan.
Ia kemudian mengambil pisau dapur dan masuk ke kamar ayahnya yang tertidur.
Penikaman dilakukan berulang kali hingga korban tak berdaya.
Korban sempat dilarikan ke RS Primaya Karawang untuk mendapatkan perawatan medis, namun nyawanya tak tertolong.
Kasi Humas Polres Karawang, Ipda Cep Wildan, menerangkan ayah dibunuh di rumah yang terletak di Perumahan Dinas Peruri, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang.
Baca selengkapnya.
4. Beda Gaya Serda Heri Purnomo, Awalnya Garang Intimidasi Penjual Es Gabus, Kini Cium Tangan Sudrajat
Oknum prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) bernama Serda Heri Purnomo, tengah menjadi sorotan publik.
Sikap Bintara Pembina Desa (Babinsa) Kelurahan Utan Panjang, Jakarta Pusat itu, dikecam karena mengintimidasi seorang penjual es gabus bernama Sudrajat (49).
Tidak sendiri, Serda Heri Purnomo beraksi bersama oknum anggota polisi bernama Aiptu Ikhwan Mulyadi, Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat.
Kedua oknum aparat tersebut mendatangi Sudrajat dengan menuduh es gabusnya terbuat dari bahan spons.
Pada video yang viral, Aiptu Ikhwan menyebut, es gabus ini terbuat dari bahan berbahaya.
"Harap hati-hati karena ini sudah direkayasa bukan bahan kue lagi atau puding, melainkan berbahan spons," katanya.
Rekaman dilanjutkan dengan aksi Serda Heri Purnomo.
Ia dengan garang memaksa Sudrajat memakan es gabus.
"Makan nih. Habisin, habisin. Telen. Yang modar (meninggal) biar kamu. Jangan anak-anak kecil kasihan itu," ucapnya dengan tegas.
Hingga Kamis (29/1/2026), video intimidasi kepada Sudrajat sudah ditonton lebih dari ratusan ribu kali.
Warganet ikut meramaikan dengan berbagai komentarnya.
Termasuk menyayangkan aksi yang dilakukan oleh kedua aparat tersebut.
Baca selengkapnya.
5. Suderajat Raup Rp300 Ribu Sehari dari Jualan Es Gabus, Masih Kesulitan Biayai Sekolah Anak-anaknya
Nama Suderajat (49), pedagang es gabus keliling di Kemayoran, Jakarta Pusat, baru-baru ini ramai menjadi perbincangan publik.
Hal itu setelah ia dituduh menjual es gabus berbahan spons. Ia didatangi dan diinterogasi dua aparat terkait barang dagangannya.
Aparat itu menuding es gabus yang dijual Suderajat mengandung bahan berbahaya.
Namun, tuduhan itu tak terbukti. Sebab berdasarkan hasil uji laboratorium, es gabus yang dijual Suderajat layak dikonsumsi.
Atas kejadian itu, Suderajat mengaku mengalami trauma hingga tak mau lagi berjualan es gabus.
Padahal, pekerjaan itu sudah ditekuni warga Desa Rawa Panjang, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu selama puluhan tahun.
Setiap hari, ayah dari lima anak itu berangkat saat matahari belum terbit dan pulang ketika matahari hampir tenggelam.
Es gabus itu tidak ia produksi sendiri, tetapi diambil dari bosnya di wilayah Depok. Suderajat hanya menjualnya dengan sistem setoran.
"Udah 30 tahunan. Tiap subuh berangkat, baliknya jam 5 sore naik KRL," ujarnya kepada wartawan, Selasa (7/1/2026), dikutip dari TribunnewsBogor.com.
Suderajat mengungkapkan tiap potong es gabus dijual dengan harga Rp2.500. Dalam sehari, ia mampu menjual lebih kurang 150 potong es gabus.
Jika dihitung, dalam sehari Suderajat bisa meraup Rp375.000.
Namun, hasil penjualan itu tak semuanya masuk ke kantong pribadi Suderajat, ia harus menyetorkan sebagian uang penjualan es gabus itu kepada bosnya.
"Dapetlah 200-300 (ribu rupiah), cukuplah buat makan mah. Setiap hari abis terus, cuacanya aja hujan. Bawa pekgo (150) abis, bawa pekgo abis," ungkapnya.
Baca selengkapnya.
(enolenam)
Diskusi