Milenial muda dan Gen Z dominasi pencarian rumah

JAKARTA, enolenamPasar properti Indonesia sedang mengalami pergeseran yang didorong oleh kelompok usia produktif dalam sebuah fenomena yang disebut sebagai The Youth Move.

Data terbaru dari Rumah123 menunjukkan bahwa generasi muda bukan lagi sekadar pengikut arus, melainkan aktor utama yang menggerakkan arah pencarian hunian dengan logika yang jauh lebih rasional, fungsional, dan berbasis nilai jangka panjang.

Dengan pertumbuhan harga rumah nasional yang terjaga di angka 0,2 persen hingga 1,6 persen dan penurunan BI Rate hingga 4,75 persen, pasar cenderung tenang namun selektif.

Menariknya, inflasi sempat tercatat lebih tinggi dari kenaikan harga rumah selama tujuh bulan berturut-turut, sementara suplai rumah sekunder justru terkontraksi sebesar -9,1 persen secara tahunan.

"Ini bukan pasar buat mereka yang asal beli. Ini pasar buat mereka yang benar-benar tahu apa yang mereka butuhkan," tulis laporan tersebut, yangdikutp enolenam,Selasa (20/1/2026).

Dominasi Gen Z dan Milenial

Aktivitas pencarian hunian sepanjang 2025 didominasi secara masif oleh kelompok usia produktif 18-44 tahun yang mencapai 63,5 persen dari total pencarian. Namun, terdapat perbedaan fundamental dalam perilaku antar-generasi ini:

1. Gen Z (18-24 tahun)

Kelompok yang dijuluki The Explorers ini menyumbang 19,9 persen pencarian.

Bagi mereka, mencari rumah adalah proses memahami pasar dan mengukur kemampuan finansial, bukan keputusan instan.

Mereka memprioritaskan hunian dekat aktivitas dengan akses transportasi yang mumpuni.

2. Young Millennials (25-34 tahun)

Sebagai The First-Time Buyers, kelompok ini menyumbang 25,6 persen pencarian.

Mereka mulai serius mengejar kepemilikan rumah tapak yang realistis untuk jangka panjang di wilayah sub-urban dengan konektivitas tinggi.

Salah satu temuan paling cerdas dalam laporan ini adalah pergeseran dari simbol status menuju efisiensi ruang.

Sebanyak 62,4 persen pencarian hunian terkonsentrasi pada ukuran ≤150 meter persegi. Rumah berukuran kecil-menengah dianggap sebagai pilihan paling relevan karena lebih mudah dikelola secara finansial dan fleksibel terhadap perubahan fase hidup.

Generasi muda kini lebih mengejar apa yang "paling masuk akal" daripada yang termurah atau terluas. Keputusan mereka adalah pertemuan antara kebutuhan ruang, lokasi strategis, dan daya beli yang terukur.

Kualitas Konektivitas

Peta hunian paling dicari pada akhir 2025 menempatkan Tangerang dengan 13,9 persen di posisi puncak, disusul oleh Jakarta Selatan (11,4 persen), dan Jakarta Barat (9,7 persen).

Fenomena ini membuktikan bahwa lokasi strategis tidak lagi ditentukan oleh jarak ke pusat kota, melainkan oleh kualitas konektivitas.

Akses transportasi publik terintegrasi seperti MRT, LRT, KRL, hingga kereta cepat Whoosh telah menjadi "mata uang baru" dalam memilih hunian.

Seperti yang diungkapkan dalam laporan tersebut, "Urban sprawl bukan lagi wacana, tapi realita yang sedang membentuk ulang peta hunian Indonesia".

Selain itu, terdapat diferensiasi tajam dalam tujuan pemilihan jenis hunian. Apartemen kini lebih banyak diposisikan sebagai instrumen fleksibilitas atau aset sewa, dengan angka 71,6 persen, pencari lebih memilih opsi sewa dibanding beli.

Di sisi lain, rumah tapak memiliki proporsi seimbang antara sewa dan beli (49,9 persen beli), yang menandakan fungsinya sebagai aset stabil untuk rencana hidup jangka panjang.

Jadi, jika 2025 adalah tahun untuk belajar, mencari, dan menunggu, maka 2026 diprediksi akan menjadi tahun untuk melangkah lebih pasti.

Generasi muda telah membuktikan bahwa mereka adalah pembeli yang lebih rasional, sadar fungsi, dan sadar finansial.

Di tengah pasar yang selektif, kunci keberhasilan bukan lagi soal seberapa cepat kita membeli, tapi seberapa strategis kita memilih hunian yang selaras dengan narasi hidup kita ke depan.

ORDER VIA CHAT

Produk : Milenial muda dan Gen Z dominasi pencarian rumah

Harga :

https://www.enolenam.my.id/2026/01/milenial-muda-dan-gen-z-dominasi.html

ORDER VIA MARKETPLACE

Diskusi