Kisah Mat Yasin, dari Sampang nekat merantau jual kue bapel, kini miliarder besi tua

SAMPANG, enolenam - Nama Mat Yasin dikenal karena merogoh uang pribadi mencapai Rp 2 miliar untuk membangun jalan di desanya, yakni Desa Madulang, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang.

Namun, tak mudah bagi pria berusia 37 tahun ini menjadi miliarder seperti sekarang. Pahitnya hidup sudah dirasakan Mat Yasin rasakan sejak berusia dua tahun.

Saat itu, orang tuanya bercerai. Mat Yasin kecil pun ditinggal bekerja ke Surabaya oleh ibunya, Salamah.

Mat Yasin dengan kakaknya, Karimah tinggal bersama pamannya. Sejak saat itu, hidup susah penuh kesulitan bercampur aduk dengan kurangnya rasa kasih sayang orangtua.

"Ibu hanya pulang saat lebaran. Dengan bapak saya, Bukari, baru bisa bertemu setelah berusia 16 tahun," cerita Mat Yasin kepada enolenam, Selasa (20/1/2026).

Namun, kerasnya hidup mendidiknya jadi anak tangguh. Mat Yasin muda pun memberanikan diri merantau ke Tanjung Perak Surabaya pada 2005.

Dia berkeliling, menjajakan kue bapel naik turun bus. Bahkan, dia kadang hanya dapat untung Rp 500 per bungkus kue. Itupun kuenya tidak laku banyak dalam sehari.

Tak menyerah, Mat Yasin beralih profesi dengan bekerja di warung bebek di Keputih, Kelurahan Sukolilo Surabaya.

Pada masa itu, dia pun kerap ikut menjadi tukang parkir di Wonokromo.

"Saat itu saya senang luar biasa dibayar Rp 150.000. Saya tidak mikir bayaran karena sudah dikasih makan," kenangnya.

Kemudian, pada 2007, dia mulai diajari memotong rambut dan dititip ke teman pamannya di Pasuruan.

Hingga pada awal 2008, Mat Yasin mencoba peruntungan dengan membuka tempat potong rambut sendiri di Surabaya.

Saat siang, Mat Yasin melayani potong rambut. Ketika malam hari, dia berkeliling kampung melayani jasa jahit kasur, Hingga akhirnya, dia bertemu jodoh dan menikah dengan Mairah.

"Saat itu saya menikah, dan menghidupi keluarga dengan memotong rambut dan jahit kasur sampai tahun 2018," ujarnya.

Bersama keluarga kecilnya, Mat Yasin mengingat masa tinggal di kamar kontrakan selebar lima meter bersama istri dan anak pertamanya.

Saat itu juga, dia mulai menabung sambil berdagang kayu bekas.

Namun, nasib berkata lain, usahanya gagal hingga bangkrut. Bahkan, dia banyak utang hingga Rp 3 miliar sejak tahun 2020.

"Dari 2021 hingga 2022, saya diuji lagi, punya uutang sebanyak Rp 3 miliar. Saya bingung harus bayar dengan cara bagaimana," katanya.

Terpuruk, Mat Yasin menolak putus asa dan terus berjuang. Akhir tahun 2022, dia diajak temannya untuk berdagang besi tua di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak itulah, dia bangkit dan mulai melunasi utang dengan dicicil.

"Berkat doa ibu, saya dipertemukan dengan orang baik saat itu. Saya pertama kali naik pesawat diantar istri ke bandara menuju Sumba, NTT," tutur Mat Yasin.

Rezeki mulai menghampiri Mat Yasin. Di Sumba Barat, dia kenal dengan ratusan pebisnis besi tua.

Perkenalan itu yang membuat bisnis besi tuanya terus berkembang, bahkan transaksinya sudah mencapai puluhan miliar rupiah.

Setelah sukses, Mat Yasin menyebut, dia teringat pada janjinya sewaktu susah untuk membangun desanya usai berhasil.

"Saat itu, saya berjanji kalau punya uang Rp 30 miliar akan membangun desa kelahiran saya," ucapnya dengan suara parau dan mata berkaca-kaca.

Mat Yasin pun berhenti bercerita sejenak. Sesekali, dia mengusap air matanya.

Kini, Mat Yasin sudah memenuhi janjinya. Dia sudah membangun jalan aspal di Desa Madulang sepanjang 10 kilo meter lebih dengan uang pribadi.

"Bagi siapapun yang ditinggal orang tuanya jangan putus asa. Jangan patah semangat dan terus berusaha. Allah pasti akan memberi rezeki," pesannya.

Mat Yasin berada dalam deretan nama para pebisnis besi tua di Indonesia. Dia pun aktif melakukan aktivitas sosial dan memberikan santunan kepada anak yatim dan tetangga di desa kelahiran.

ORDER VIA CHAT

Produk : Kisah Mat Yasin, dari Sampang nekat merantau jual kue bapel, kini miliarder besi tua

Harga :

https://www.enolenam.my.id/2026/01/kisah-mat-yasin-dari-sampang-nekat.html

ORDER VIA MARKETPLACE

Diskusi