Kematian massal ikan KJA Jatiluhur Purwakarta meluas: dipicu fenomena upwelling, oksigen drop

Kematian massal ikan KJA Jatiluhur Purwakarta meluas: dipicu fenomena upwelling, oksigen drop
Ringkasan Berita:
  • Fenomena upwelling atau naiknya massa air dingin dasar waduk mengakibatkan kematian massal ikan di KJA Waduk Jatiluhur yang kini meluas hingga wilayah Sukatani. 
  • Minimnya oksigen akibat hujan terus-menerus dan tumpukan eceng gondok membuat ribuan ikan nila serta mas mati sebelum masa panen. 
  • Dinas Perikanan Purwakarta kini melakukan monitoring intensif di 43.000 petak KJA guna mendata total kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai angka fantastis.

Laporan Wartawan enolenam, Deanza Falevi

enolenam, PURWAKARTA - Kematian massal ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, terus meluas seiring tingginya curah hujan yang terjadi hampir sepekan terakhir. Hingga kini, jumlah pasti ikan yang mati belum dapat dipastikan karena potensi penambahan kematian masih terus terjadi.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Purwakarta, Anton Kushartono, mengatakan fenomena ini berkaitan erat dengan musim hujan yang berlangsung sejak November dan diperkirakan masih berlanjut hingga Maret.

"Kalau untuk jumlah kematian ikan, sampai saat ini kami belum bisa memastikan karena potensi penambahan masih ada. Curah hujan tinggi ini kan sudah berlangsung sejak November dan masih berlanjut," ujar Anton kepada wartawan di Kantor Diskanak Purwakarta, Senin (26/1/2026).

Berdasarkan hasil monitoring sementara yang dilakukan bersama UPTD Perairan Umum, ia menyebutkan, wilayah terdampak kematian ikan KJA meliputi kawasan Jatiluhur, Ubruk, Tanggul Kayat, serta sebagian wilayah Sukasari. 

Laporan terbaru juga menyebutkan kematian ikan mulai bergeser ke wilayah Citerbang, Kecamatan Sukatani.

"Hari ini teman-teman dari bidang perikanan budidaya langsung turun untuk monitoring dan survei lokasi," katanya.

Anton menjelaskan, penyebab utama kematian ikan adalah fenomena upwelling atau embalan, yakni naiknya massa air dingin dari dasar waduk ke permukaan akibat percampuran suhu air yang dipicu hujan deras dan minimnya sinar matahari.

"Upwelling ini proses alami. Saat hujan tinggi dan tidak ada cahaya matahari, terjadi percampuran suhu antara lapisan atas dan bawah air. Air dingin dari bawah naik ke permukaan, oksigen menurun, ikan tidak kuat lalu mati," ucapnya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut diperparah oleh banyaknya eceng gondok di beberapa titik, khususnya di kawasan Ubruk, yang semakin menurunkan kadar oksigen terlarut di perairan. Dampaknya tidak hanya dirasakan ikan di KJA, tetapi juga ikan liar di perairan waduk yang terlihat naik ke permukaan.

Menurutnya, jenis ikan yang paling banyak terdampak adalah ikan mas dan nila, dengan usia bervariasi, mulai dari benih hingga ukuran mendekati panen. Namun sebagian besar ikan yang mati belum memasuki usia panen.

"Banyak yang masih umur satu sampai satu setengah bulan. Normalnya panen itu dua setengah sampai tiga bulan," ujar Anton.

Dinas Perikanan dan Peternakan Purwakarta menyebutkan, pihaknya sebenarnya telah mengantisipasi potensi kejadian ini dengan menerbitkan surat imbauan kepada petani KJA sejak Agustus dan kembali diperkuat pada Desember.

"Dalam surat imbauan itu kami minta agar penebaran ikan dikurangi dan proses panen dipercepat untuk menghindari periode hujan tinggi," kata Anton.

Berdasarkan data yang diterima dinas, jumlah total KJA di Waduk Jatiluhur saat ini mencapai sekitar 43.000 petak, menjadikan kejadian kematian massal ikan ini berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi petani budidaya ikan air tawar di Purwakarta.

Sebelumnya, salah satu petani KJA di Waduk Jatiluhur, Roni, mengaku mengalami kerugian besar akibat kematian ikan yang terjadi secara tiba-tiba di kolamnya di Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani.

"Di kolam saya saja yang mati hampir satu ton. Kejadiannya baru semalam, tapi di blok lain sudah dari dua hari lalu," kata Roni.

Menurutnya, di lokasi tersebut terdapat sekitar 32 petak KJA yang terdampak. Ia memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp100 juta.

ORDER VIA CHAT

Produk : Kematian massal ikan KJA Jatiluhur Purwakarta meluas: dipicu fenomena upwelling, oksigen drop

Harga :

https://www.enolenam.my.id/2026/01/kematian-massal-ikan-kja-jatiluhur.html

ORDER VIA MARKETPLACE

Diskusi