Ciputra Life ungkap 4 faktor asuransi kesehatan bisa moncer pada 2026

enolenam, JAKARTA — PT Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life) membeberkan empat faktor yang membuat pihaknya optimistis produk asuransi kesehatan bisa terus bertumbuh pada 2026.
Direktur Ciputra Life Listianawati Sugiyanto mengatakan optimistis tersebut juga didukung oleh beberapa faktor struktural dan perilaku pasar yang semakin menguat.
Adapun, faktor pertama adalah data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan asuransi kesehatan menjadi salah satu kontributor yang cukup besar untuk industri asuransi jiwa, dengan porsi hampir 19% dari total premi industri keseluruhan.
“Angka ini mencerminkan pola kebutuhan masyarakat di mana proteksi kesehatan tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai kebutuhan dasar dalam perencanaan keuangan keluarga,” ungkapnya kepada Bisnis, dikutip pada Senin (19/1/2026).
Dia meneruskan, faktor kedua adalah peningkatan kesadaran masyarakat terhadap risiko kesehatan pasca pandemi terasa bersifat permanen, bukan sementara. Masyarakat kini lebih memahami risiko kesehatan bersifat tidak terduga, sementara biaya medis terus mengalami inflasi.
Oleh karena itu, Ciputra Life melihat kondisi ini mendorong permintaan (demand) yang lebih kuat terhadap produk asuransi kesehatan yang dapat memberikan perlindungan finansial jangka panjang.
Listianawati melanjutkan, faktor ketiga adalah dari sisi demografi dan ekonomi, kelas menengah Indonesia terus tumbuh. Menurutnya, segmen ini tidak hanya mencari proteksi dasar, tetapi juga menginginkan layanan kesehatan yang berkualitas, kemudahan klaim, dan terintegrasi dengan perencanaan keuangan jangka panjang.
“Keempat, kami melihat transformasi digital dan perbaikan tata kelola klaim di industri akan menjadi katalis pertumbuhan di 2026,” sebutnya.
Menurut Listianawati, digitalisasi memungkinkan proses underwriting, klaim, hingga layanan nasabah menjadi lebih cepat, transparan, dan efisien, sehingga meningkatkan kepercayaan publik terhadap industri asuransi kesehatan.
“Dengan kombinasi faktor tersebut [mulai dari tren pertumbuhan premi, perubahan perilaku masyarakat, tekanan biaya kesehatan, hingga inovasi industri] kami meyakini asuransi kesehatan masih memiliki ruang pertumbuhan di 2026, dan akan tetap menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan bisnis asuransi jiwa ke depan,” tegasnya.
Adapun, untuk mendongkrak pendapatan premi dari produk asuransi kesehatan, Ciputra Life fokus pada lini bisnis Corporate Solution atau produk asuransi kesehatan kumpulan untuk perusahaan yang ingin memberikan benefit proteksi untuk para karyawan.
Hingga sejauh ini, Listianawati membeberkan produk asuransi kesehatan di perusahaannya didominasi oleh kelompok usia produktif. Hal ini sejalan untuk menunjang keberlanjutan produktivitas kerja.
Dia turut mengungkapkan pendapatan premi Ciputra Life sampai dengan November 2025 mencapai Rp457 miliar. Sementara itu, untuk klaimnya masih didominasi oleh klaim rawat inap yakni mencapai 65%, sedangkan klaim rawat jalan sebesar 28%, sisanya berasal dari jenis perawatan medis lainnya.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis produk asuransi kesehatan terus bertumbuh, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelindungan risiko kesehatan.
Selain itu, optimistis juga didasarkan pada kinerja asuransi kesehatan di industri asuransi jiwa yang sampai dengan November 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 17,23% year-on-year (YoY).
“Pada asuransi jiwa, premi asuransi kesehatan mencapai Rp30,84 triliun berkontribusi 18,82% terhadap total premi asuransi jiwa,” tutur Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono dalam konferensi pers daring RDK OJK Desember 2025, Jumat (9/1/2026).
Diskusi