Akhirnya Temukan Penjual Lontong Kupang di Bogor


Lontong Kupang adalah hidangan khas Sidoarjo yang tidak mudah ditemukan di wilayah Bogor, baik Kabupaten maupun Kota. Beruntung, pada Agustus tahun lalu saya secara tidak sengaja menemukan Warung Jawa Timuran di Perumahan Bumi Sentosa, Nanggewer, Cibinong, Kabupaten Bogor. Warung tersebut menyediakan berbagai masakan Jawa Timur seperti Lontong Kupang, rujak cingur, sego pecel, tahu tek, bakso Malang, dan lainnya. Pilihan pertama saya jatuh pada Lontong Kupang, sementara menu lainnya akan dicoba pada kesempatan berbeda.

Lontong Kupang merupakan makanan favorit saya. Pertama kali mengenalnya ketika dalam perjalanan pulang dari Bangkalan ke Malang, Bapak saya menghentikan Jip Mambo di daerah Waru, Surabaya. Jip Mambo adalah sebutan populer untuk kendaraan 4X4 buatan Amerika yang dirakit pada tahun 1970. Nama lainnya adalah CJ-5, dengan ciri khas lampu utama bulat dan gril tegak. Meskipun ukurannya lebih kecil dibanding generasi CJ-7, Jip Mambo tetap menjadi ikon transportasi di Indonesia.

Ketika mobil berhenti di dekat pikulan penjual Lontong Kupang, saya mencoba hidangan khas Sidoarjo ini dan langsung menyukainya. Ternyata, Lontong Kupang juga tersedia di Malang, terutama di Sarinah, dekat alun-alun kotak Kota Malang. Selain itu, ada penjual Lontong Kupang yang berkeliling di sekitar permukiman. Mbok penjual berasal dari Bangil, Kabupaten Pasuruan, naik bus membawa dagangan. Kuah Lontong Kupang masih mengepul meski ia melakukan perjalanan jauh. Menyantapnya saat kuah masih hangat adalah pilihan terbaik.

Cara Mbok Penjual meracik Lontong Kupang menjadi pertunjukan yang menyenangkan bagi saya ketika masih kecil. Setelah menurunkan barang, ia mengeluarkan piring, mengelapnya, lalu menggerus bawang putih mentah, cabai rawit, gula pasir, dan petis kupang. Ia memotong-motong lentho (singkong parut dicampur kacang tolo dan bumbu) lalu menuangkan kuah panas berikut isian kupang. Terakhir, ia memeras potongan jeruk nipis di atasnya.

Ingatan tentang cara Mbok Penjual meracik Lontong Kupang tidak mudah terhapus. Pengalaman merasakannya tidak hanya tertancap dalam kenangan, tapi juga sampai tahun kemarin. Setelah sekian tahun, pada Agustus tahun lalu saya melahap Lontong Kupang di daerah Nanggewer, Cibinong, Kabupaten. Saya menduga gerai di dalam perumahan itu merupakan satu-satunya penjual Lontong Kupang di wilayah Bogor Raya. Ternyata, ada satu lagi penjualnya, yaitu di Kota Bogor, sekitar tiga kilometer dari tempat tinggal saya.

Pada Desember lalu, ketika menaiki angkot 07 dari Warung Jambu melewati Jalan Ahmad Yani, saya melihat spanduk "Lontong Kupang" di mulut sebuah gang. Jalan kecil ini beraspal mulus dan bisa dilalui satu mobil. Setelah berjalan kaki 150 meter, saya sampai di gerai penyedia masakan Jawa Timur. Sebuah garasi yang disulap menjadi dapur, etalase, dan ruang makan tiga meja dengan kursi kayu. Meskipun sempit, suasana terasa akrab.

Di depan dan dalam warung terdapat daftar menu, antara lain: Lontong Balap, Lontong Kikil, Tahu Tek, Tahu Telur, Tahu Campur, Nasi Pecel, Nasi Krawu, Rujak Cingur, Nasi Urap, Menjes, Ote-Ote, Sate Kerang, dan lainnya. Menurut penjual, tidak semua hidangan tersedia setiap hari. Nasi Krawu dan golongan nasi lainnya tersedia pada hari kerja untuk melayani makan siang karyawan kantor sekitar.

Umumnya, pembeli adalah warga yang berasal atau pernah tinggal di Surabaya/Jawa Timur. Saya menyapa seorang ibu setelah melihat ia selesai menyantap sepiring Lontong Kupang.
"Asli dari Jawa Timur, Bu?"
"Bukan. Saya orang Bogor."
"Lha kok doyan masakan Jawa Timur. Makan Lontong Kupang pula."

Lontong Kupang tidak mudah ditemui keberadaannya di daerah selain Jawa Timur. Bahkan, tidak semua warga Jawa Timur menyukai rasa masakan khas Sidoarjo tersebut. Namun, ibu yang datang sendiri khusus mendatangi gerai kuliner Surabaya itu tampak sangat menikmati hidangan.
"Saya pernah lima tahun di Surabaya."

Pantas ia tidak canggung menyantap Lontong Kupang, bahkan menikmatinya. Jika sedang kangen masakan Jawa Timur, terutama Lontong Kupang, ia berkunjung ke Dapoer Iyen'S. Pikiran berkelana. Untuk mencoba berbagai menu tersedia, tak cukup sekali mendatangi gerai yang dikelola suami istri berasal dari Surabaya itu. Maka, saya mengunjunginya tiga kali.

Lontong Balap

Pada kunjungan pertama, saya memesan Lontong Balap. Seporsi berisi potongan lontong, kuah, tahu goreng, lentho, kecap manis, petis udang, tauge setengah matang, dan taburan bawang goreng. Saya menyantapnya bersama sate kerang.
Sepiring Lontong Balap menghadirkan rasa gurih kaldu, yang berpadu dengan manisnya petis dan kecap. Sambal rawit memperkaya rasa. Harganya Rp17.000 seporsi.
Menurut keterangan, nama Lontong Balap muncul dari kebiasaan penjualnya yang berlari kecil seraya memikul dagangan demi mencari tempat strategis di pasar, seperti balap.

Lontong Kikil

Sabtu pekan berikutnya, saya memesan Lontong Kikil. Dari daftar menu, hidangan ini paling mahal, Rp35.000 seporsi. Versi lebih murahnya, Rp20.000, berisi kulit sapi. Isiannya simpel: irisan lontong, kikil rebus, kuah berempah, taburan bawang daun. Kucuran jeruk nipis dan sambal akan menambah rasa.
Kikil adalah bagian kaki sapi yang direbus hingga lunak. Teksturnya kenyal, berkat kolagen. Namun, penderita kolesterol tinggi, asam urat, dan hipertensi sebaiknya mengurangi konsumsinya karena kikil mengandung tinggi kolesterol, purin, lemak jenuh, dan natrium.
Meski demikian, saya jarang menyantapnya karena rasanya enak. Lontong Kikil sedap disantap selagi hangat. Jika kuah dingin, protein perekat pada tulang rawannya akan jadi lem alias lengket. Kuah dengan rempah-rempah dan pedasnya merica menghangatkan tubuh. Kikil kenyal, tapi empuk berkat direbus lama mudah dikunyah. Secara keseluruhan, menyantap Lontong Kikil menghadirkan kegembiraan; lupakan sejenak hasil lab atau anjuran dokter.

Lontong Kupang

Sabtu pekan terakhir Desember, kembali saya ke gerai dan memesan Lontong Kupang.
Saya tidak melihat cara meraciknya, hanya membayangkan begini: bawang putih, cabai rawit dihaluskan pada piring, ditambah potongan lontong dan lentho, serta petis, lalu disiramkan kuah dan kupang (kerang kecil-kecil berukuran kurang dari satu sentimeter).
Menyantapnya setelah dikucuri perasan jeruk nipis dan sambal secukupnya. Lidah mencecap rasa gurih, sedikit manis, segar, dan pedas, sementara gigi memotong dan menghaluskan suapan demi suapan. Harganya, Rp27.000 seporsi.
Saya tidak pernah bosan menikmati makanan khas Sidoarjo ini. Tidak hanya menghadirkan pengalaman rasa enak, tetapi juga membawa kenangan ke masa kecil ketika menyantapnya di Waru bersama keluarga, atau memesannya kepada Mbok Penjual yang berkeliling di sekitar rumah di Malang.

Sejak tinggal di Jakarta, kemudian di Kota Bogor, saya tidak pernah menemukan penjual Lontong Kupang. Baru pada Agustus tahun lalu mendapatkannya di sebuah gerai di Nanggewer, Kabupaten, sekitar 15 kilometer dari rumah di Kota Bogor. Lumayan jauh.
Beruntung, pada Desember kemarin saya melihat spanduk yang mengarah ke warung penyedia kuliner Surabaya, termasuk Lontong Kupang. Gerai ada di Kota Bogor, berjarak tiga kilometer dari rumah.
Akhirnya, saya mendapatkan warung penyedia Lontong Kupang dan aneka kuliner Surabaya di Kota Bogor. Letaknya dekat, sehingga saya tidak perlu berpayah-payah lagi bila kangen Lontong Kupang.

ORDER VIA CHAT

Produk : Akhirnya Temukan Penjual Lontong Kupang di Bogor

Harga :

https://www.enolenam.my.id/2026/01/akhirnya-temukan-penjual-lontong-kupang.html

ORDER VIA MARKETPLACE

Diskusi