4 Fakta Jembatan Mahulu Samarinda Kembali Ditabrak: Kronologi dan Penyelidikan Polisi
Insiden Tabrakan Jembatan Mahulu Kembali Terjadi, Rumah Warga Rusak Parah
Pada Minggu (4/1/2026) dini hari sekitar pukul 01.17 Wita, Jembatan Mahakuam Ulu (Mahulu) di Kota Samarinda, Kalimantan Timur kembali ditabrak oleh kapal tongkang bermuatan batu bara. Peristiwa ini terjadi kurang dari dua minggu setelah insiden serupa yang menimpa jembatan tersebut pada 23 Desember 2025 lalu.
Kali ini, benturan tidak hanya mengenai jembatan, tetapi juga merusak sebuah rumah warga. Lokasi rumah tersebut berada di 500 meter dari Jembatan Mahulu, tepatnya di Jalan Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda.
Jembatan Mahulu menghubungkan Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang dengan Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Samarinda Seberang di Kota Samarinda. Dalam insiden kali ini, kapal tongkang yang penuh muatan batu bara diduga lepas tali tambat dan terbawa arus dari arah hulu ke hilir.
Kronologi Kejadian
Menurut informasi yang diperoleh, awak kapal sempat berteriak memperingatkan pemilik rumah sebelum benturan terjadi. Ketua RT 17 Kelurahan Sengkotek, Setiabudi, menjelaskan bahwa sekitar jam satu lewat 17 menit, orang kapal itu sudah teriak-teriak supaya pemilik rumah bangun. Setelahnya, pemilik rumah bangun dan langsung tertabrak dapurnya.

Pantauan di lokasi menunjukkan bagian dapur rumah mengalami kerusakan parah. Pemilik rumah, Ribut Waluyo, yang telah bermukim di tepi Sungai Mahakam selama 10 tahun, mengaku bersyukur tidak ada korban jiwa. Ia bersama lima anggota keluarga berhasil menyelamatkan diri.
“Waktu kejadian saya pas mau istirahat. Alhamdulillah, istri dan anak bangun, sempat lari dari rumah,” ujarnya. Namun, seluruh perkakas dapur seperti kompor, kulkas, mesin cuci, dan alat masak hilang terbawa arus sungai. Ribut berharap ada ganti rugi atas kerugian yang dialami.

Dari pantauan di lokasi rumah warga, bekas tabrakan akibat tersenggol kapal tongkang di area dapur mengalami rusak parah. “Ya habis, kalau kerugian belum bisa dihitung. Harapannya, ada pergantian nantinya,” tandasnya.
Penanganan oleh Pihak Berwajib
Seluruh ABK (Anak Buah Kapal) dari kapal yang terlibat dalam kejadian ini telah diamankan oleh Polresta Samarinda. Pamapta I Polresta Samarinda, Ipda Rifqhi Sactio, mengonfirmasi bahwa selain mengenai pilar jembatan, terdapat laporan kerusakan pada properti warga.
Pihak Pamapta Polresta Samarinda merespon langsung laporan masyarakat di lapangan untuk memastikan situasi tetap kondusif di lokasi kejadian. "Informasi awal memang benar bahwa ada warga yang melaporkan akibat kejadian malam ini, terdampak juga terhadap dapur dari rumah warga. Setelah ini akan dilaksanakan pengecekan lebih lanjut," jelas Ipda Rifqhi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian telah mengambil langkah-langkah intensif sebagai bagian prosedur awal. “Kalau untuk yang diamankan itu seluruh ABK yang berada di kapal sedang diamankan dan sedang diminta keterangan oleh Polairud Polresta Samarinda,” tukasnya.
Pemeriksaan intensif sendiri dilakukan unit Gakkum Sat Polairud Polresta Samarinda guna mendalami penyebab pasti kejadian, apakah karena faktor cuaca, arus sungai, atau kelalaian manusia (human error). Kepolisian juga akan segera berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengecek tingkat kerusakan pada struktur pilar Jembatan Mahulu guna memastikan keamanan bagi pengendara yang melintas.
Sementara itu, proses hukum terkait kerusakan rumah warga dan insiden tabrakan jembatan akan terus berjalan di bawah penanganan Polairud Polresta Samarinda.
Respons Dinas PUPR
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) merespons atas insiden tabrakan Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) yang kembali berulang, Minggu (4/1/2026) dini hari. Kepala Dinas PUPR Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda, menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan pengecekan di lapangan.
“Kami cek di lapangan,” singkatnya. Pengecekan di lapangan sendiri, belum dikonfirmasi kembali kapan akan dilakukan. Intinya, Dinas PUPR Kaltim akan melakukan pengecekan seperti yang dilaksanakan saat Jembatan Mahulu ditabrak pada 23 Desember 2025 lalu.
Tentunya melihat, apakah ada kerusakan pada pilar di Jembatan seperti insiden tabrakan 2 pekan lalu. “Ya kami bersama dinas terkait akan mengecek ke lapangan. Akan kami info kan segera,” ucapnya.
Kondisi Jembatan Mahulu
Sebelumnya, diberitakan bahwa tiga fender Jembatan Mahulu sudah hilang akibat insiden tabrakan kapal tongkang beberapa waktu lalu. Hal ini membuat jembatan dalam kondisi rentan. Kepala Dinas PUPR & PERA Kaltim, Fitra Firnanda, menyatakan kekhawatiran akan risiko kerusakan lebih parah jika terjadi tabrakan susulan.
Dia menjelaskan, insiden tabrakan beberapa waktu lalu menyebabkan tiga fender pada pilar P6 hilang. "Yang disapu sama kejadian kemarin itu ada tiga fender di Pilar yang P6 itu. Itu ketabrak hilang semua," terang Fitra. Lanjut dia, hilangnya ketiga fender tersebut membuat jembatan tidak memiliki pengaman sama sekali.
Kondisi ini sangat berbahaya karena jika terjadi tabrakan susulan, kapal akan langsung menghantam pilar. "Kami menyampaikan bahwa jembatan itu dengan tidak adanya fender artinya masih riskan untuk sampai ada kejadian tabrakan lagi," ujar Fitra.
Perusahaan Bersedia Ganti Rugi
Dalam rapat tersebut, perusahaan pemilik tongkang yang menabrak jembatan menyatakan kesediaan untuk mengganti kerusakan. "Pernyataannya bersedia, cuma kita tinggal tindaklanjutin nanti di Januari awal pihak direktur perusahaannya akan datang," kata Fitra. Dia menambahkan, perusahaan tersebut telah mengcover kerusakan melalui asuransi, sehingga penggantian ketiga fender dapat ditanggung oleh pihak asuransi.
Pihaknya akan mengikat perjanjian resmi dengan perusahaan untuk memastikan proses perbaikan berjalan sesuai rencana. Terkait estimasi biaya perbaikan, Fitra enggan memberikan perkiraan. Dia menyatakan akan menghitung terlebih dahulu menggunakan harga terkini agar lebih akurat.
Meski demikian, sebutnya, lalu lintas kendaraan di atas jembatan masih aman karena berdasarkan alat ukur tidak ada deformasi yang signifikan. Hal yang menjadi fokus perhatian saat ini adalah keamanan lalu lintas air di bawah jembatan.
Target Penyelesaian
Dinas PUPR & PERA Kaltim menargetkan perbaikan dapat diselesaikan dalam waktu maksimal 3-4 bulan. Namun Fitra mengakui, realisasinya sangat bergantung pada kesiapan perusahaan yang bertanggung jawab. "Kalau kami menargetkan sesegera mungkin, paling tidak dalam waktu 3-4 bulan maksimal sudah selesai. Tapi ini kan sangat tergantung dari mereka. Makanya kita tunggu untuk mengetahui jawabannya," demikian kata Fitra.
Diskusi